Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

Seperti Musim Hujan


Sore itu, di ujung evaporasi batinku
aku melihat sekelompok awan menenggak samudera
wajah mereka gelisah, mulut mereka basah
lalu mereka bertutur serempak
melahirkan sajak-sajak yang tersamar dalam kitab suci
perlahan keluar dari celah-celah mulutnya
lalu turun, lalu tersungkur,
dan sebagian menghantam jalanan

Hujan hujan hujan
teriak si bocah kecil
anak tetangga yang tak rajin pergi sekolah
Bodoh, ucap ibunya penuh elegan
itu kiriman tuhan, anakku. Hari ini ia berbaik hati
Bodoh, sentak si ayah
sejak kapan ia membuat hati untuk dirinya sendiri

Hey, bocah... Katanya mau huhujanan
kamu harus keluar
hujan itu kan seperti tuhan
ia tak suka masuk dalam rumahmu
karena gentingnya terlalu ketat
karena pintunya tertutup rapat




Setiabudhi-Bandung, 17 Desember 2012
04:11 #sedetik sebelum adzan shubuh


Jumat, 06 Januari 2012

Sebilah Puisi untuk Bulan Malam Ini

senja telah tenggelam
angin yang tadi sembunyi di balik daun jati
kini kembali ke pangkuan
mengajak pemilik cerita mulai keluar
matanya mengingat mimpi pada tidur tadi siang
cukup lugu dan tenang
serupa isi mulut kerang yang terbuka di lautan

menunggu kaki-kaki waktu untuk diam
para lelaki memilih kejam
sekedar untuk senyum gadis pujaan
rela merenggut bintang dari malam

sedang bulan makin sendirian
menari tanpa nyanyian

disana
ia memilih ikut terendam
bersama burung-burung yang masih berenang
pada dinding piring dan gelas cucian

Senin, 21 November 2011

Perkenalan Matahari


Perkenalkan, disini matahari
sinarku akan menyapa setiap pasang mata
setelah berziarah di pangkal senyuman wanita

Disini masih matahari
panasku mampu merayu awan agar berlarian
lalu mengusir hujan
yang dapat menemani buah tangisan

Coba sekali saja benamkan dalam hati
bahwa akulah matahari
sosok yang selalu kau cari
dengan tawa kita indahkan hari
dengan air matamu nanti
bersama kita membuat pelangi


Selasa, 08 November 2011

Satu Nama (Puisi)




Mungkin kau mirip pahlawan
yang darahnya meresap pada sendi-sendi sejarah

Dan aku seolah anak sekolah
berkali-kali menutup buku, menutup mata, sambil mengingat nama
(milik seseorang yang tak pernah memanggilku dalam tidurnya)

di malam sebelum ujian semester 



Kamis, 29 September 2011

Tanya-Tanya (Puisi)

Ada tanya kian merambat
Pelan-pelan masuk dalam ruang tersekat
Menjadikannya taman kecil
Penuh dengan bunga-bunga beraroma pekat
Dan kebingungan

Bunga pertama berkata
Apakah wanitamu mencintai karena kepintaranmu
Sedang otak itu akan melemah
Lalu melupakan semua rumus fisika dan yang lainnya

Kata bunga kedua bernada sama
Apakah ia mencintai karena puisi
Sementara mata tuamu nanti
Begitu susah membedakan pena dengan jemari

Tentu saja kukatakan tidak
Atas tanya yang takkan secepatnya mereda

Tak lama kudengar tawa
Kenapa kau sirami kami
Saat kau mampu menjawab sendiri

Rabu, 07 September 2011

Teman Sepi

Jika sepi adalah teman
Kuminta kalian berbicara pelan
Ia tengah memangku sekotak pesan
Serupa rasa asin pada garam

Sejenak saja kusetubuhi kalam
Maka malam akan jatuh
Diantara kata yang terlontar
Keluar bersama tinta pudar
Dari uraian akhir cerita
Sama-sama hendak kita bakar

Jika sepi adalah teman
Berhentilah meminta segan pada Tuhan



Subang, 15 Agustus 2011

Rabu, 13 Juli 2011

Puisi Tanpa Wajah

Bersama setengah gelas kopi susu
Hendak kusimpan wajahmu
Diantara satu dua bintang yang belum mau pulang

Pasti akan datang seorang ayah
Datang ke rumahku dengan marah
Setelah mendapati putrinya di pagi nanti
Tanpa wajah

Hehee.. Tanpa wajah





Minggu, 03 Juli 2011

Sepasang Purnama

Lampu kamarku kian meredup
Diam-diam merayu cahaya mengendap masuk
Sementara angin dingin mulai mengintip
Dari celah tirai jendela yang ia buka

Tak dapat kutahan seribu senyum
Melihat tanda tanya di wajahnya begitu ranum
Mereka berdua
Samasama tak kuasa mencerna
Tentang rindu atas sepasang purnama
Yang bertahta diantara katup matamu, wahai wanita




Jumat, 20 Mei 2011

Orang Mulai Menyebutku

Sesuatu apa yang hendak kutulis saat diri ini mendapati serangkaian hidung mancung di sekelilingku tak ingin menangkap uraian angin yang memeluk aroma nafasku. Tentu bukan karena virus influelza atau bau tak biasa.

Saat rasa itu bergemuruh datang kemudian jari-jemarinya yang nakal mulai menyingkap selimut tebal dalam tidur yang cukup lelap. Hingga pada pukul tiga kurang seperempat, aku terpaksa harus terbangun dan sempat merasa sesak dengan suara isak yang tak kunjung pecah. Tapi, ternyata masih juga belum ada apresiasi untuk kantung mata berisi luka dan air mata yang tertahan itu.

Ada begitu banyak hal yang dikhawatirkan atas beberapa molekul oksigen yang akan kuambil dari dunia ini sebelum menjadikannya pribadi yang beda untuk kembali menyapa atmosfer lagi. Entah mereka sudah tak mempercayai takdir Amazon bersama Kalimantan. Entah aku memang tak layak mendapatkan bagian.

"Haruskah aku tetap tersenyum, setidaknya sebagai jam istirahat sebelum kembali menangis?"
"Haruskah  aku menangis agar mereka tersenyum dan tertawa histeris?"

Sejujurnya... Tak ada yang ingin kutulis ataupun kutanyakan.

Dalam niat sesaat sebelum aku mulai menulis, selalu kuhindari kata-kata manis walaupun hasil akhir selalu saja terkesan sedikit puitis. Mungkin inilah bawaanku yang orang biasa menyebutnya "ROMANTIS", pikirku.





Bandung, 20 Mei 2011 | 00:14
----------------------------------------------
Tak perlu mempertanyakan apakah ini puisi atau cerpen
Saya sendiri bingung. Hehee...
Tapi yang pasti ini adalah sebuah catatan kecil


Sabtu, 14 Mei 2011

Saat Lampu Merah Harus Memanggil

Kaca mata hitam ini telah sengaja diciptakan agar dunia memperlihatkan lesung pelangi tak serasi lagi untuk negeri ini
Dan.. Kasih matahari semakin berlari menjauhi


Kemarin kudengar suara samar dengan nada-nada rendah yang telah mengikat ambisi dan emosi untuk sekian waktu dari tangan-tangan itu. Sementara getaran enam senar gitar menemani nyanyian pilu tentang rumah yang terkapar. Serupa bunyi kecil diatas tanah membisikkan gemertak langkah binatang-binatang lapar yang terpaksa berpetualang membuka halaman baru pada suatu cerita.

Kita simpan sejenak cerita klasik tentang ekspresi wajah di tiap lampu merah saat ia tak mendapati koin diatas topinya
Disini masih ada yang mau bertanya kemana perginya kata-kata indah yang tak pernah kita lepas dari rapalan doa saat hendak meminta aneka buah dan batang ataupun ranting
Apakah nurani telah ikut terbakar bersama kayu yang mengering?
Ataukah terbuang bersama tulang beruang yang tak tertuang di meja sebelum makan malam?



Rabu, 27 April 2011

Inilah Aku, Malam

Tangan tangan langit telah siap merangkul

Padaku yang masih berjalan di bawah lipatan angin malam

Menunggu gelap saat dirinya bosan menari

Menanti cahaya untuk dinyalakan kembali



Entah prasati mana mulai menulis sebutan untuk pemilik cerita penghujung malam ini

Nyanyian hujan jelas menuturkan bukanlah sastrawan

Meski terkadang di balik awan kau tampak berlebihan

Mengganggapku mampu mengubah tinta jadi berlian



Biarkan kembali kutegaskan, dari awal aku hanya bermodal berani dan bermain dengan sedikit kata

Sedang di hadapanmu

Berlaga seakan satu-satunya titisan para pujangga





Cimahi, April 2011


Jumat, 04 Maret 2011

Surat Terakhir Musim Ini untuk Sahabat

Assalamu 'alaikum wr wb..

Kawan,
Waktu tak kuasa kuiris untuk selalu bisa merasakan jejakmu
Jejak yang akan semakin tertinggal jauh
Bahkan mungkin ada beberapa yang akan membias dan terlupakan seperti apa presisi tiap lekukannya

Satu lagi kelemahanku, juga tak mampu kutekuk jarak
Si penghalang yang membentengi sejuta senyuman dari mataku

Mengingat itu semua, segera kugariskan tinta sebelum tiba waktunya
Tentang satu musim tak banyak kudapati dirimu. Kita sedang jauh, Sahabatku
Bahkan saking jauhnya…
Senyummu hanya dapat kulihat diatas kertas berukuran 4R
Tawamu cuma bisa kudengar dari folder yang mengendap dalam cairan otak
Getaran merdu di pita tenggorokanmu tinggal sebatas gelombang suara melalui speaker ponsel
Serta candamu telah menjelma jadi bait-bait teks yang kubaca dalam pesan singkat

Aku tahu saat-saat sulit akan segera datang
Tak mungkin kutolak sapaan mentari dengan sopan di hari yang dingin itu
Pada saat kita tengah asik mengejar kedewasaan masing-masing

Kawan,
Ingatlah dengan satu pinta
Ingatlah dengan ukiran-ukiran kecil yang kita buat bersama pada dinding dunia ini

Terimakasih, Kawan

Wassalamu 'alaikum wr wb..




Deden Denry Musthafa

Bandung, 4 maret 2011 Pukul 15:51





Selasa, 01 Maret 2011

Kembalikan Aku pada Dulu

Begitu nikmat menguasai
saat langit terpejam mendekati malam
menyambut evaporasi nafas yang tercemari
di bawah paruh paruh waktu siap menyantap, para taringnya kian tertajam

Kembalikan aku pada dulu
juga jubah kelelakianku
serak pak tua sendiri di ruang remang sudut rumahnya
dibangun dengan liur basi dan rambut yang berguguran
bersekat sekat air mata





Bandung, Februari 2011

Sabtu, 12 Februari 2011

Coretan Kecil Menjelang Pagi

Mencoba pejamkan keindahan dunia bersama lelap lelap hampir tiap nafas disini
Memaksakan pada sunyi malam ini


Kupecahkan sepi dengan membesarkan suara musik melow yang kuputar menemani setiap diam
Agar tak banyak warna maya merunyam
Sedang sejak tadi pikiranku melayang ke semesta dirimu
Membawa tetanya penuh harap
Sambil membuka kembali lembaran demi lembaran berisi penuh jejak jejak indah yang dulu pernah kita injak
Bersama


Deretan kisah telah banyak kulukis dengan mesra
Kutinggalkan dalam bingkai-bingkai rapih, hampir menumpuk
Karena masih ada sketsa selanjutnya
Tanpa tahu keterbatasan ruang menjadikan satu alasan hanya pesona senyummu yang menggantung terpajang tegak pada dinding kamarku
Jelas permukaannya terkadang tertutup lapisan debu
Tipis
Lalu sesekali kubersihkan biar tetap menawan


Adakah sepertiku pada kaca jendelamu?
Tak usah dulu berucap andai hembusanmu belum inginkan menyibak lautan tanyaku
Sebab ini hanyalah coretan hati saat ketidakmampuanku menyapa malam


Maaf, tentangmu cukup mengganggu waktu tidurku




Rabu, 09 Februari 2011

Menanti Pagi

Selalu di setiap sepi
Menari dengan belaian ilusi
Sambil kunikmati tanya hati, ikhlaskah aku yang menanti
Pada lautan tanpa tepi yang pasti


Dan semakin kuat saat kulihat senyum mesramu yang bersembunyi malu dibalik bingkai kayu
Kukira angin malam kan membisikannya untukmu
Untuk yang jauh terhempas kisah lalu
Tentangku di jiwa yang tak lelahnya untuk kukagumi
Sosok sejuta aksi


Ah.. Tak banyak bisa kuceritakan
Aku terlalu pelupa untuk sekedar mengingatnya
Hanya yang pasti kuingat satu
Semuanya begitu indah



Rabu, 19 Januari 2011

I.N.I.S.I.A.L.M.U

Nyonya, ijinkan aku menuliskan tentang kisah malam

Usai kita mereguk cahaya rembulan

Nafasmu saat itu, masih kuingat amat sangat mampu menyapu

Usir semua debu

Yang ada di bilik selasar mataku



Wajahmu seketika tenangkan qalbu

Usahaku tentu kian menderu

Lalu

Aku dan kamu

Nyata seolah tertakdir, dalam negeri impianku



Nyonya,

Usiamu kini sudah dewasa

Rasa yang dulu dipuja

Wacana putih-abu yang pernah menyapa

Akan mungkin dilupa

Namun, sekali lagi biarkan padamu aku bercerita

Tanpa kusematkan tinta pada diary

Inisialmu tetap ada






Kupersembahkan untuk pemilik yang selalu kukecup namanya di setiap awal tulisanku..

I.N.I.S.I.A.L.M.U





Sabtu, 04 Desember 2010

Bisa Ku Sederhana

Bisa saja kulukis warna keindahan

dengan kanvas dan cat minyak berkelas, juga dengan harganya yang mahal

sebelum kuliarkan waktu untuk mengawal raga

sebagai pekerja paksa lalu disumpali sedikit upah

di negeri yang kita sebut tercinta

 

Bisa saja kutulis bait kemewahan

dengan kertas dan tinta dari emas

sebab kau pun tahu aku pernah sekaya itu

sebelum kubelanjakan untuk ijazah di rumah pemeras rupiah

 

Tak bisa kutebus semua. Kecuali untuk hal yang sederhana

seperti kau membayangkan aku sedang asik bermimpi

duduk di sudut sebuah pematang sawah

daun hijaunya tersenyum renyah

saat kubuka bungkusan kecil diantar mu menghela letih





 


Bandung 2010 

Rabu, 10 November 2010

Tentang Hadiahku




Pagi ini kukenakan kemeja putih

Bersih beserta dasi polos sedikit rapi


Entah ada apa

Semua senang menertawaiku

Bahkan mereka yang mengaku para keluarga dan kolega

Menunjuk gantungan di leherku



Mungkin saja mereka tidak tahu

Tentang hadiahku, kudapat dari batang reranting mengering

Jatuh dan berserakan di bawah batu koral bening



Mungkin juga mereka tidak tahu

Tentang hadiahku, kudapat dari lembar dedaunan kuning

Saat gelap tadi berguguran

Saat semesta sedang terlelap ketiduran



Terimakasih





Kuberikan puisi ini, untuk kalian yang terlahir diberi nama pahlawan.

Mengenang Hari Pahlawan 10 November




Sabtu, 06 November 2010

Pernah Aku Mengunjungi Sebuah Rumah

Pernah aku mengunjungi sebuah rumah

halamannya dihiasi aneka pohon tak berbunga

tak berbuah



Dengan lama aku tinggal disana

dengan para romusha berkulit sama

aku kenal satusatu dari mereka

semuanya penikmat kopi pekat dan benci jus strawberry

Kata mereka, kami sangat betah

sebab disini kopi dapat dicari dengan mudah

gampang

seperti menukar emas jadi arang



Pernah aku mengunjungi sebuah rumah

pada suatu cerita lama dan benar benar lama

sampai sampai aku lupa pernah masuk lagi

pernah sekali lagi

di tempat ini




Bandung 2010

Selasa, 02 November 2010

Aku Masih Aku

Begitu cekatan auramu

Meramu ejaan malam di perempatan kota pualam



Ingin sekali ku mendekat

Bertukar gelombang tanya dan jawab, sambil katakan

Hai ini aku

Namamu masihkah seperti empat tahun lalu?

Seperti di awal ruang dengar dengan tangan gemetar

Dulu

Ketika menyapa buku buku jemari penghuni baru



Maaf mengganggu

Dengan dasi dan jas hitam, kutakut kau tak mengenalku. Ditambah kemeja biru berkerah

Tanpa sepatu bolong dan lusuhnya seragam sekolah

Tanpa tas gendong yang talinya putus sebelah



Tak usah malu

Karena aku bukan penikmat tubuh

Dengan murah dibelanjakan di kamar kamar hotel hingga subuh



Aku masih sosok yang pernah tak kamu mau

Pernah memungut sobekan surat untukmu

Terdampar diatas lantai dari tangan lembut itu

Sembari memeluk harap nanti nanti hadirmu menanti di ranjang tidur

Menungguku yang suamimu
 


Bandung 2010