Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2011

Di Sebuah Perhentian

Jika kau memiliki sekeping CD berisi lagu favorite, maka ini kupastikan adalah sehela nafas pada nada yang sedikit tak cocok dengan cord manapun.


Baru saja aku menuruni sebuah bis kota ditemani dengan ceramah di sepanjang jalan yang cukup membosankan. Akhir-akhir ini aku begitu lekat menaikinya secara terpaksa, begitu pula dengan si penceramah berbaju putih tadi.

Di sepanjang jalan kompleks pertokoan, kutangkap aura kota ini tampak suram dari biasanya, matahari seperti tenggelam lebih awal saat jarum jam di tangan kiriku masih bersimpuh santai di angka lima lewat beberapa menit. Atau―kali ini aku jadi berpikir―mungkinkah benda itu telah bosan memberitahu seseorang yang menganggapnya seolah asesoris  yang tertakdir hanya berputar-putar di tempat itu-itu saja dengan nilai tak lebih dari Rp 75.000? Terpaksa harus kuakui tentang keterlambatanku hampir di setiap hal.

Ah, aku sedikit teringat dengan peristiwa di hari sebelum kemarin saat masih kuabaikan benda itu, di dimensi tempat dan titik rotasi waktu yang hampir sama. Suasana ini di jalan ini, suara-suara mesin kendaraan, lantunan lagu berjudul Sarjana Muda yang mengejekku dari radio milik seorang pak tua diatas becaknya, teriakan promosi tukang obat lesehan, dan aku yang sedang menjinjing tas gendong dan map berwarna merah ini di sebuah jalan yang tak kutahu namanya.

Kupikir itulah momen memilukan saat kupilih untuk menjual iPhone-ku, ponsel yang kudapat setelah merengek-rengek pada ayahku sebagai permintaan di hari ulang tahunku yang ke-19. Untuknya, aku harus berpura-pura kabur dari rumah dan mengancam tak akan pulang. Tak sedikitpun ada rasa ingin tahu bagaimana ayah mendapatkan uangnya sampai akhirnya beberapa orang berseragam dinas keamanan datang ke rumah untuk  mencarinya.

Baru kusadari betapa sempurnanya hidupku sebelum mereka hilang ke dalam ruang gelap dan hitam, juga dengan ponsel yang berada di tangan kananku. Kutimang-timang, kuperhatikan sekali lagi setiap sisinya sampai mataku terhenti pada ukiran silver berbentuk buah apel yang tertera di belakangnya, logo apel yang baru dimakan sedikit.

Kenapa begitu banyak yang percaya tentang Eva yang mau menukar surga dengannya? Entah kenapa aku berpikir bahwa itu adalah apel sisa dari surga.

Lalu bagaimana dengan bidadari di rumahku? Bukankah ia juga telah menukar istana dengan kalimat rayuan yang kudapat dari majalah-majalah dan juga hikayat orang jalanan? Semua orang tahu itu tak lebih mahal dari apel.

Sungguh amat besar penyesalanku atasnya. Ambisiku telah membuat perutnya semakin hari semakin tak terlihat sexy. Tapi entah kenapa dari sana aku mulai menyukainya secara ikhlas, bukan lagi karena wajah cantik atau postur tubuhnya yang indah. Bukan lagi karena uang taruhan dan semacamnya.

Hari berikutnya, sepertinya sama juga dengan yang lainnya. Tak kudapati perbedaan melainkan kurekam seorang penjaga toko yang sedang dimarahi wanita gendut, entah dia pemilik toko entah seorang pelanggan yang tidak puas. Hampir tiap hari wanita itu ada disana. Dan, sedang marah-marah.

Tak ada yang berubah disini, melainkan sebuah map yang semakin nyenyak bersemayam di tanganku di sebuah jalan yang masih tak kutahu namanya. Papan nama jalan yang sudah terkorosi akibat panas dan hujan membuat mataku kehilangan kemampuan dalam membaca.

Tempat ini memiliki keunikan sendiri. Ia telah memikatku, juga terhadap orang-orang yang ada di sekitar sini. Jadi bagaimana mungkin tempat seperti ini tak memiliki nama? Entah kenapa ada rasa tertantang saat kupilih untuk terus memikirnya. Otakku terus mengulas kalimat yang sama sampai aku tak sadar tanganku yang secara otomatis telah siap untuk mengetuk pintu kayu depan rumah kecilku.

Aku terdiam. Beberapa kali kuambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi. Pikiranku mulai terpusat pada seorang penyiksa paling kejam dari algojo jail manapun. Di sebalik pintu ini, kuyakin ia pasti tengah menunggu kedatanganku, menunggu jawaban yang berbeda dari sebelumnya.

Sementara tanganku begitu terasa semakin jelas bergetaran. Untuk kesekian kalinya kulepaskan nafas panjang. Mencoba memberanikan diri.

Terdengar suara berat khas pintu tua yang mulai terbuka setelah aku mengetuknya tiga kali. Aku tak tahu seperti apa ekspresiku saat itu. Yang kutahu jantungku berdetak semakin cepat, keringat yang sempat mereda mulai berkeliaran lagi di sekujur tubuh dan wajahku.

“Wa alaikumussalam,” suara yang begitu indah mencoba menjawab salamku. “sudah pulang ya?”

Yah, dialah bidadari yang kumaksud tadi, sekaligus penyiksaku.

Lagi-lagi aku diam. Sementara semua otot gerakku serasa kaku. Andai saja dulu kuliah kedokteranku selesai, mungkin sedikitnya kutahu apa penyebabnya.

“Dhe, aku…”

Dengan pelan ia daratkan telunjuknya di bibirku. “Masuklah dulu dan lepas bajumu, biar kubuatkan teh hangat untukmu.” katanya sambil tersenyum. Ia menyentuh pundakku yang basah saat langkah kakiku melewatinya.

Aku tak tahu apa kata yang tepat untuk mendeskripsikan senyumannya waktu itu. Terlihat begitu tulus. Namun rasa sakit ini semakin menyeruak. Lagi-lagi tanpa sadar ia telah menghukumku, menyiksaku.

Kami duduk berhadapan tersekat meja makan, tapi mata kami tak saling bertatapan. Untuk pertama kalinya kami sama-sama diam, mematung dan melihat meja kayu bertaplak bunga mawar putih yang begitu bersih, selain segelas teh hangat yang baru saja disuguhkan untukku.

Kulihat istriku kemudian hanya menunduk seperti seorang siswi sekolah dasar yang akan dihukum gurunya. Sebelum akhirnya ia mulai berkata-kata. “Kang, sebaiknya malam ini kita ngga usah…”

“Coba tebak hari ini kubawa apa?” Mulai kucoba menguapkan segala kekakuan sambil mengeluarkan beberapa bungkus makanan instan dan minuman kaleng dari tas gendongku. Tuhan, maaafkanlah aku, terpaksa harus kupotong kata-katanya.

“Wah banyak sekali,” teriaknya dengan mata girang dan berbinar, ternyata hanya beberapa detik saja. Kemudian ia meraih tanganku dan membalikannya. “kenapa akang melakukannya lagi?!”

Ia melihat semua bekas jarum yang sebelumnya kututupi dengan plaster untuk mengelabui petugas dalam acara tadi.

“Sekarang-sekarang ini PMI sedang mengadakan acara penggalangan donatur dimana-mana, ngga mungkin kan akang melewatkannya. Cepatlah makan, Dhe. Kamu ngga mau kan bayi kita sedih gara-gara ibunya kelaparan?”

Telah kumanipulasi semua dataku dalam formulirnya. Kutahu, manusia selalu saja ada yang lalai. Bukan ada, tapi banyak.

“Aku ngga lapar!” bantahnya. Matanya memerah tersirami air mata. Ia berdiri. Kemudian setengah berlari masuk menuju kamar. “aku yakin… Bayi kita akan lebih bersedih lagi jika ia tahu apa yang barusan dilakukan ayahnya…!”

Kudengar suara pelan bercampur isak dari dalam kamar. Rupanya itu adalah suara terakhir yang kudengar tadi malam. Aku merasa kini dunia berputar tak beraturan. Tanganku semakin gemetar. Tiap detak jantungku terdengar begitu jelas. Napasku sesak. Ingin sekali kukabari istriku, tapi kuyakin ia sedang menangis. Semuanya membias hitam dan tak terlihat lagi.

Maafkan aku yang akan membuatmu menangis lebih keras lagi, isitriku.

Semua bayangan itu telah kabur terusir suara klakson bis yang melewati jalan ini. Bis tersebut berhenti. “Yah, habis habis!” teriak kondektur.

Rupanya disinilah tempat perhentian terakhir bis ini. Bodohnya aku. Lalu apa nama jalan yang panjang ini? Ah, kenapa juga harus kupertanyakan. Karena hanya akan ada dua kemungkinan untuk namanya. Kembali ingatanku pada setiap uraian si penceramah itu.

Kulihat map yang ada di tanganku. Kubuka sedikit. Aku tersenyum saat melihat sampul bertuliskan riwayat hidup. Baguslah, masih terlihat seperti sebelumnya. Setelah membaca semuanya, kuyakin Dia tetap Maha Mengerti.






Jumat, 20 Mei 2011

Orang Mulai Menyebutku

Sesuatu apa yang hendak kutulis saat diri ini mendapati serangkaian hidung mancung di sekelilingku tak ingin menangkap uraian angin yang memeluk aroma nafasku. Tentu bukan karena virus influelza atau bau tak biasa.

Saat rasa itu bergemuruh datang kemudian jari-jemarinya yang nakal mulai menyingkap selimut tebal dalam tidur yang cukup lelap. Hingga pada pukul tiga kurang seperempat, aku terpaksa harus terbangun dan sempat merasa sesak dengan suara isak yang tak kunjung pecah. Tapi, ternyata masih juga belum ada apresiasi untuk kantung mata berisi luka dan air mata yang tertahan itu.

Ada begitu banyak hal yang dikhawatirkan atas beberapa molekul oksigen yang akan kuambil dari dunia ini sebelum menjadikannya pribadi yang beda untuk kembali menyapa atmosfer lagi. Entah mereka sudah tak mempercayai takdir Amazon bersama Kalimantan. Entah aku memang tak layak mendapatkan bagian.

"Haruskah aku tetap tersenyum, setidaknya sebagai jam istirahat sebelum kembali menangis?"
"Haruskah  aku menangis agar mereka tersenyum dan tertawa histeris?"

Sejujurnya... Tak ada yang ingin kutulis ataupun kutanyakan.

Dalam niat sesaat sebelum aku mulai menulis, selalu kuhindari kata-kata manis walaupun hasil akhir selalu saja terkesan sedikit puitis. Mungkin inilah bawaanku yang orang biasa menyebutnya "ROMANTIS", pikirku.





Bandung, 20 Mei 2011 | 00:14
----------------------------------------------
Tak perlu mempertanyakan apakah ini puisi atau cerpen
Saya sendiri bingung. Hehee...
Tapi yang pasti ini adalah sebuah catatan kecil


Kamis, 04 November 2010

Happy Ending

Sinar yang telah menerik mulai menguapkan embun-embun pagi di setiap sela-sela rerumput dan hamparan hijau lainnya. Adapun yang terkatrina oleh hembusan angin dari kendaraan yang mengejar waktu, mengejar setoran. Tampak bis antar kota berwarna putih melaju dengan cepat, mematahkan reranting yang berserakan diatas permukaan aspal. Sesekali terdengar suara decitan rem ketika bis melintasi kelokan-kelokan tajam di daerah yang memang berada di kaki gunung.

Semua begitu menikmati perjalanan indah itu. Perjalanan yang tak pernah terpikir akan seperti apa akhirnya. Kini bis putih bergaya elegan terdiam kaku di tengah jalan sepi, membuat segelintir orang-orang didalamnya kecewa karena beberapa agendanya akan sedikit terulur. Adapun yang hanya terdiam tak begitu mempermasalahkannya.

Dari dalam, Raga melihat sekali lagi sesuatu yang diterimanya malam tadi lewat e-mail, ia diminta untuk memilih disain untuknya. Ia menatap  print-out tersebu sekali lagit, ia takut matanya yang salah melihat. Namun untuk kesekian kalinya tetap seperti itu, tidak ada yang berubah. Ia akan lebih berterimakasih jika itu bukan mimpi.Setengah jam telah berlalu. Gemuruh suara-suara itu semakin membesar.

Raga mengeluarkan ponsel walkman-nya, lalu menekan tombol volume bertanda positif yang tersemat di samping kanannya. Sedikit demi sedikit gelak suara kasar pun mulai terabaikan, tertimpali musik favoritnya yang sudah diputar dua menit yang lalu. Melewati earphone, nyanyian romantis jelas begitu terdengar. Suasana ini mengingatkannya pada kenangan lama bersama seseorang seusai study-tour beberapa tahun silam.




Suara lantang Pak Darma dengan gerakan tangannya yang tegas mengisyaratkan untuk segera masuk ke dalam bis kepada beberapa siswa dan siswi yang lebih memilih menunggu di luar sambil menikmati suguhan panorama sejuk nan indah. Ada yang memanfaatkan momen ini dengan foto-foto, menelpon keluarga, membuka persediaan makanan ringan, sampai ada yang melewatkannya berdua saja dengan sang terkasih. Tapi ada juga yang memilih berdiam di dalam bis sambil menatap keindahan alam lewat kaca jendela, dan juga ada beberapa yang sedang tiduran.


Gertakan sepatu setengah berlari membangunkan beberapa yang tertidur. Suara mesin terdengar halus, bersiap-siap menjalankan ban hitamnya.


Sesosok gadis cantik bediri di samping kursi.


Raga menyadarinya, ia tidak sedang menduduki kursinya. Ia segera menutup buku catatan yang berisi puisi-puisi miliknya dan menyelipkan pena kecil di dalamnya. Kemudian ia mematikan musik yang dari tadi diputar. “Maaf.” Ia berangsur berdiri di samping gadis itu sembari mengucapkannya halus tepat ke telinga gadis itu.


 “Iya.” Ucap Mia dengan acuh. Ia langsung menuju tempat duduknya yang bernomor 13 itu. Angka sial, pikirnya.


Raga kemudian duduk lagi di kursinya, disamping Mia. Keduanya tak pernah berbicara sedikitpun.


Bis melaju lagi dengan perlahan, mengusir aliran udara di depannya. Dan raga mulai melanjutkan menulis puisinya yang belum selesai.


 “Kenapa kamu suka menulis tentang ibu?”


Kalimat itu memecah kesunyian diantara mereka.


Ia menatap dengan heran saat mendapati Mia sedang tersenyum ke arah bukunya.


 “Merindukannya ya?”


Raga menganggukan kepalanya.


 “Aku juga rindu padanya.” Ia memejamkan matanya, dalam. Ia begitu meresapi kerinduannya.


 “Saat sampai di rumahmu, tataplah matanya,” Raga menutup bukunnya. “seketika itu kerinduanmu akan menguap."


Ada sebuah cairan aneh mengalir lambat diatas pipi halus milik Mia, cairan bening yang tak pernah sebelumnya dilihat Raga dari sosoknya. “Bahkan, seperti apa wajahnya aku ngga pernah tahu.”


Suara lembut itu bagai tusukan menyakitkan buat Raga. Selama ini ia telah menyakitinya.


Sekarang ia tahu alasan Mia -yang padahal saat itu tidak mengetahui siapa pemiliknya-, menyobek puisi buatan Raga yang dipajang di papan kreasi kelas. Kejadian itu mebuat Raga membencinya.


Sedangkan Mia tak menyukai kabar itu. Kabar tentang ada seseorang yang membencinya di kelas barunya.


 “Maaf aku ngga…” Raga tak mampu melanjutkannya. Sesuatu jauh mengiris hatinya. Lalu ia memberikan lipatan sapu tangan.


Mia mengusap air matanya dengan sapu tangan milik Raga. Ia mencium wangi parfume yang tersemat didalamnya. Ia tak pernah menyadari aroma yang diciumnya itu selalu ada disampingnya selama perjalanan. “Terimakasih.” Ia memberikan lagi sapu tangan itu.


Raga tersenyum. “Sama-sama.”


Mia membalasnya dengan senyuman yang sama.


Tanpa terasa, kendaraan mereka telah sampai di sebuah rumah makan sederhana khas Sunda, agenda tour terakhir. Para wali kelas dan beberapa guru mengarahkan untuk tak terburu-buru.


Udara di luar begitu dingin bercampur dengan angin-angin dan debu-debu jalan dari lajuan kendaraan. Beberapa siswa berjalan berhamburan meninggalkan bis-bis yang berjajar teratur di tempat parkir terbuka yang lebih mirip seperti lapangan. Raga dan Mia masih belum turun dari bis.


 “Kamu ingin tahu ngga seperti apa sosok ibumu?” tawar Raga.


Mia mengernyitkan dahinya, ia belum mengerti. “Iya.” jawabnya penasaran.


Raga bergegas mengeluarkan  ponsel wakman dari sakunya. Lalu membuka menu dan folder-folder selanjutnya. “Coba lihat!”


Mia masih terdiam. Belum jelas apa yang dilihatnya.


 “Hanya seorang ibu cantik yang dapat melahirkan anak secantik ini.”


Kini Mia bingung, antara senang dan ingin marah terhadap si usil disampingnya. Tapi apa yang didengarnya membuat ia memilih untuk tersenyum saat melihat sebuah foto di layar ponsel. Fotonya sendiri yang sedang tertidur di kelas.



Seperti orang gila, Raga tersenyum sendiri ditengah kerutan dahi orang-orang disekitarnya. Ia baru terbangun dari masa lalunya. Sambil tetap tersenyum, ia mengeluarkan kembali contoh disain surat undangan tadi. Terukir diatasnya dua nama indah, Raga dan Mia.


Pak supir naik ke depan kemudi dan mulai mencoba menyalakan mesin. Sedangkan dengan pakainan dan tangan sedikit terlumuri oli, para antek-anteknya berdiri di samping bis, menunggu. Dan ternyata bis telah diperbaiki dengan baik, semua berjalan lancar. Mereka langsung bergegas masuk saat suara mesin terdengar. Perjalanan yang sempat tertunda itu kembali dilanjutkan.


Angin segar mulai menyapanya lewat celah-celah kecil di dinding bis tersebut.





- TAMAT -



Bandung 2010 
 

Senin, 01 November 2010

Sebuah Jejak

Duduk memperhatikan kuatnya senja menahan rayuan malam. Sebelum kelambu hitam dikibarkan.

    Beserta hamparan hijau pesawahan luas menyebar, pepohonan tegak, dan gunung-gunung menjulang di bawah naungan lembayung jingga. Berhiaskan burung kecil yang terbang riang di bawahnya. Menemani tempat sederhana ini.

   Ini bukumu ia kembalikan, ucapnya. Terdengar dengan nada dipaksakan. Mungkin tak ingin membumbui rasaku.



Diam sejenak. Seakan terbangun beranjak dari hipnotis alam.

Segera kuambil buku tipis yang ia sodorkan. Buku bersampul merah maroon, masih utuh. Seperti baru kupinjamkan kemarin.

Angin tipis mulai mendesir, coba menghiburku. Mengalunkan nyanyian indah. Hinggap di tangkai-tangkai padi, hingga ikut menari terhanyut syahdu. Ia telah pergi mengejar impiannya.

Ia menatapku penuh haru. Matanya berbinar menahan luapan yang dirasakannya. Perasaan yang sama denganku. Masih saja ia paksakan.

Aku sudah tahu, jawabku. Ternyata benar.

Awan kelabu menutup surya. Hangat sinarnya tertahan, tak sampai di wajahku. Cahaya tak lagi ceria.

Aku tak bisa lama disini, ucapnya lagi sambil menengok seseorang lainnya. Ia mengulurkan tangannya berpamit diri.

Kuikuti arah matanya. Jauh di ujung pematang sana kulihat wanita berbalut rapih tertutup jilbab coklat. Tampak serasi dengan tanah, alas ia berpijak. Tengah menunggu setia orang di depanku.

Wanita itu telah lama kukenal. Parasnya tak asing.

Aku hanya mengangguk, bersalaman, dan berucap terimakasih. Tanpa kata-kata lagi, hanya senyum sendu.

Jaga diri ya, ucap Gera kesekian kalinya.

Ia meninggalkanku dengan senyum. Hanya kudengar deru motor yang dulu selalu kutumpangi saat hendak pergi ke sekolah.

Kini suaranya kian menjauh. Dimakan jalan.

Aliran udara membawa aroma pekat tertempal di buku ini, kutafsirkan sebagai jejak si peminjam. Inilah yang kucium saat berada di sisinya. Sungguh terasa nyata.

Kuraba lagi penuh rasa. Sambil kuingat tatapan manja merayuku saat hendak meminjamnya dulu. Jauh sebelum hari ini.

Memulai lembar demi lembar kubuka. Berharap ada kata tak terucap yang ia tuang dalam isyarat, meski harus teka-teki. Lama tak kudapatkan darinya. Secuil kertas terjatuh ketika kubuka puluhan lembar berikutnya. Inikah yang kuharapkan itu? Tak sabar rasanya ingin segera kuambil kertas tersebut, agar kutahu apa yang diisyaratkannya.

Sungguh betapa tersntaknya aku kala melihatnya. Tak mungkin sengaja ini diletakkan di bukuku. Aku sungguh kenal siapa dia.

Kulihat lagi untuk keberapa kalinya. Baru kukenali apa yang ada di sudut kanan bawahnya.

Ya ampun...

Segera kututup buku ini dan kumasukkan kertas tersebut ke dalamnya. Masih dengan seribu tanyaku.

Otakku berlari-lari diantara sampul dan selembar kertas putih itu. Kemudian tertahan. Baru kusadari setelah melihat dan membaca tulisan bercetak tebal berwarna putih diatas jertas merah maroon.

Jilid II

Ia telah meninggalkan pesan tanpa disadarinya. Selama ini ia berusaha menyembunyikannya. Betapa indah perasaannya.

Aku tak pernah memilikinya. Mungkin karena tergesa-gesa tak ingin terlambat sampai di bandara hingga tak disadarinya. Bukan, Tuhan-kulah yang memperlihatkan keagungan-Nya padaku.

Jadi ini alasan mengapa sampai berani menyimpannya. Syukurlah ia masih sosok seperti dulu yang selalu kukagumi. Ini jelas bukanlah milikku.

Angin senja menghembus kembali, mematahkan perhatian pepadian padaku dan menyuruhnya menari lagi. Kali ini bukan untuk menghibur, tapi turut berbahagia bersama sorakan jiwa.

Andai kamu lebih dulu datang, pasti kamu orangnya.

Kuingat kembali kata-katanya tiga tahun yang lalu. Seakan meninggikan diri sebari menutupi kerendahan hati dengan ketegasan.

Ah... Ia memang pintar dalam melantunkan kata-kata. Gubug ini jadi saksi kedua kalinya.

Tunggu aku kekasihku.




Subang 2010 

Jumat, 22 Oktober 2010

Angin Terakhir Sore Ini

Rasa gugup ini semakin besar dan semakin tak dapat kukendalikan. Peluh mulai bercucuran membanjiri kaos yang kukenakan seperti telah kupakai lari seharian. Percuma tadi kupakai parfum segala jika akhirnya akan seperti ini.

     Memang kuakui, ini pertama kalinya yang akan kulakukan. Sesuatu yang mungkin akan menjadi sejarah baru hidupku. Seperti inikah rasanya.

     Kata-kata yang sejak tadi malam kupersiapkan telah kukeluarkan dengan sedikit asa. Mulai dari awal hingga akhir tertuang jelas. Aku harap semuanya berjalan mulus. Aku yakin tak ada jawaban lainnya yang mampu menandingi jerih payahku selama ini selain jawaban yang kuharapkan.
 
     Tapi ternyata kenyataannya tak seperti itu. Semuanya tak searah dengan pemikiranku sebelumnya. Dengan pemikiran orang-orang yang duduk tak jauh dariku.

     Suaranya bergetar di telingaku, meresonansi ke bilik-bilik lain yang kosong, terpontang-panting mengikuti nada aliran darah hingga aku lelah dengan sendirinya. Membahana ke relung-relung jiwaku saat dia bilang tak bisa.

     Kulihat Gera dan Yanti yang sesungguhnya merekalah yang merencanakan ini semua, kini terlihat hanya diam penuh sesal. Tak ada yang salah pada mereka. Hanya ingin membalas budi jawabnya. Hubungan mereka memang ada sedikit atas bantuanku. Tak salah jika mereka ingin melakukannya untukku. Mungkin tak seperti ini yang diharapkannya. Padahal sebelumnya begitu optimis memotivasiku sampai beberapa detik yang lalu.

     Andaikan tadi kuambil kamera digital dan kurekam wajah mereka, ingin kuberikan hasil itu untuknya agar tetap berekspresi seperti tadi. Betapa kontrasnya keadaan mereka sekarang.

     Sedang tak begitu ada perbedaan dariku, dari tadi sampai sekarang tetap berperang dengan prajurit-prajurit dan strategi terbaik yang kumiliki mencoba menguasai kegugupanku.

     Angin senja menghembus tepat ke hidungku membawa partikel-partikel parfum dari pakainnya, kaos merah muda. Awalnya jelas kurasakan hasil kerja udara bergerak itu, namun begitu kuatnya rasa ini hingga wangi yang sebelumnya terasa pun kini mulai kuabaikan. Aku masih menerka-nerka perkataanya. Tak percaya.

     “Andai kamu datang lebih dulu, pasti kamulah orangnya”

     Aku hanya menganggukan kepala yang sebenarnya terasa berat, tapi kupaksakan. Sebenarnya aku tak tahu apa maksud dia berkata seperti itu. Mungkin hanya mencoba menghiburku, menutupi rasa tak enaknya.

      Dia memegang erat tanganku.

     Aku melihat dan merasakan kelembutan tangannya. Kuangkat kepala, tak sanggup kulihat lagi genggaman tangan ini. Kini mataku dengan matanya beradu keras menghantam. Kulihat senyum manis dalam dirinya untukku. Entah apa artinya.

     Tak lama, dia melepaskan genggamannya dan menarik tangan Yanti yang dari tadi duduk bersama Gera tak jauh dariku untuk meninggalkanku pergi. Meninggalkan gubuk yang sejak tadi kami tempati. Berharap dia pergi juga dari hatiku jauh-jauh dan jangan pernah kembali lagi.

    Hangat sinar mentari yang pucat terasa begitu segar mendarat di atas kulitku, turut menyemangati jiwa yang lelah.

    “Aku tak tahu dia sudah…” Ucapnya tak lengkap sambil menepuk-nepuk pundakku. Suaranya tersedak suasana.

     Aku hanya bisa memberikan senyuman termanisku di depan matanya.