Tampilkan postingan dengan label Untuk Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk Sahabat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2011

Orang Mulai Menyebutku

Sesuatu apa yang hendak kutulis saat diri ini mendapati serangkaian hidung mancung di sekelilingku tak ingin menangkap uraian angin yang memeluk aroma nafasku. Tentu bukan karena virus influelza atau bau tak biasa.

Saat rasa itu bergemuruh datang kemudian jari-jemarinya yang nakal mulai menyingkap selimut tebal dalam tidur yang cukup lelap. Hingga pada pukul tiga kurang seperempat, aku terpaksa harus terbangun dan sempat merasa sesak dengan suara isak yang tak kunjung pecah. Tapi, ternyata masih juga belum ada apresiasi untuk kantung mata berisi luka dan air mata yang tertahan itu.

Ada begitu banyak hal yang dikhawatirkan atas beberapa molekul oksigen yang akan kuambil dari dunia ini sebelum menjadikannya pribadi yang beda untuk kembali menyapa atmosfer lagi. Entah mereka sudah tak mempercayai takdir Amazon bersama Kalimantan. Entah aku memang tak layak mendapatkan bagian.

"Haruskah aku tetap tersenyum, setidaknya sebagai jam istirahat sebelum kembali menangis?"
"Haruskah  aku menangis agar mereka tersenyum dan tertawa histeris?"

Sejujurnya... Tak ada yang ingin kutulis ataupun kutanyakan.

Dalam niat sesaat sebelum aku mulai menulis, selalu kuhindari kata-kata manis walaupun hasil akhir selalu saja terkesan sedikit puitis. Mungkin inilah bawaanku yang orang biasa menyebutnya "ROMANTIS", pikirku.





Bandung, 20 Mei 2011 | 00:14
----------------------------------------------
Tak perlu mempertanyakan apakah ini puisi atau cerpen
Saya sendiri bingung. Hehee...
Tapi yang pasti ini adalah sebuah catatan kecil


Jumat, 04 Maret 2011

Surat Terakhir Musim Ini untuk Sahabat

Assalamu 'alaikum wr wb..

Kawan,
Waktu tak kuasa kuiris untuk selalu bisa merasakan jejakmu
Jejak yang akan semakin tertinggal jauh
Bahkan mungkin ada beberapa yang akan membias dan terlupakan seperti apa presisi tiap lekukannya

Satu lagi kelemahanku, juga tak mampu kutekuk jarak
Si penghalang yang membentengi sejuta senyuman dari mataku

Mengingat itu semua, segera kugariskan tinta sebelum tiba waktunya
Tentang satu musim tak banyak kudapati dirimu. Kita sedang jauh, Sahabatku
Bahkan saking jauhnya…
Senyummu hanya dapat kulihat diatas kertas berukuran 4R
Tawamu cuma bisa kudengar dari folder yang mengendap dalam cairan otak
Getaran merdu di pita tenggorokanmu tinggal sebatas gelombang suara melalui speaker ponsel
Serta candamu telah menjelma jadi bait-bait teks yang kubaca dalam pesan singkat

Aku tahu saat-saat sulit akan segera datang
Tak mungkin kutolak sapaan mentari dengan sopan di hari yang dingin itu
Pada saat kita tengah asik mengejar kedewasaan masing-masing

Kawan,
Ingatlah dengan satu pinta
Ingatlah dengan ukiran-ukiran kecil yang kita buat bersama pada dinding dunia ini

Terimakasih, Kawan

Wassalamu 'alaikum wr wb..




Deden Denry Musthafa

Bandung, 4 maret 2011 Pukul 15:51





Rabu, 16 Februari 2011

Jejak Tinta Untuk Sahabat

Tak tahu seperti apa eksistensiku. Mungkin melihat sebagai beban, penuh keegoisan, merasa lebih dan selalu merendahkan. Tak apalah menilai seperti itu, karena aku yang bersembunyi di dalamnya pun tak lebih tahu.

Terlepas dari semuanya, kuhanya ingin memandang setiap dari diri kalian adalah manusia pilihan. Yakin bahwa kalianlah yang Allah pilih untuk menemani hidupku, yang ikut meramaikan catatan harianku, dan turut mengisi ruang kosong dalam memoriku.

Adanya kalian, aku bisa belajar berekspresi. Senyum, bahagia, tawa, sedih, perih, dan bingung tertumpah ruah menggores jadi seni yang sedikit demi sedikit bisa kupahami. Justru ketiadaannya, aku hanya makhluk diam tanpa arah.


Semoga gelar sahabat masih menyapaku penuh semangat. Tentunya tetap dari kalian, Sahabatku.