Sabtu, 20 Agustus 2011

Kolam Ikan Itu Bukan Milikku



Pada permulaan pagi ini, aku ingin memulainya dengan berandai sedikit tentang sosok wanita yang kerap membuatku terbangun di tengah malam hanya untuk melihat  pesan singkat yang sengaja ia kirim ke ponselku, walau sebatas kalimat “Maaf, dhe ketiduran lagi” ataupun sejenisnya.

Jujur, aku sungguh merindukan hal yang kini tak kudapati lagi.


Suatu hari kau menghabiskan waktu di sebuah pedesaan yang sangat indah, duduk manis sambil merasakan belaian angin lirih di tepian kolam berisi air yang jernih. Air di kolam itu begitu hangat menyambutmu hingga ia memperlihatkan kepadamu betapa indah dirinya dari dalam, termasuk tarian ikan berwarna-warni.

Mungkin ada satu kata ‘wajar’ saat diam-diam kau membesarkan pupil matamu dan mulai mengaguminya, ingin segera pulang dan mengambil alat pancing. Ataupun sekedar menyapa ikan-ikan itu dengan tanganmu yang bersih.

Tapi pada saat yang sama orang akan mulai menertawakanmu ketika dunia berkata lain, bahwa kolam itu bukanlah milikmu. Juga air jernih dan ikan-ikan yang lucu itu bukan pula milikmu.

Jika harus kuandaikan, ia serupa kolam itu. Ia berada di tempat yang indah, airnya begitu tenang dan menyejukkan bagi siapa saja yang mendekatinya, dan kalau pun ada riakan kecil maka kekagumanmu akan semakin bertambah. Sayangnya, sekali lagi kolam itu bukanlah milikmu.

Merayapi kehidupan yang seperti ini, kau akan tiba-tiba terbangun dengan rasa sesak yang ditumbuhi jamur serba kebingungan. Setiap hari mereka akan tumbuh dan kian membesar sembari menggerogoti otakmu sampai tak ada lagi yang terpikirkan selainnya.

Aku sendiri sudah begitu sadar sebagai seseorang yang harus pandai mengukur batasan seberapa tinggi aku harus bermimpi. Namun inilah yang kurasakan sekarang.





Selasa, 26 Juli 2011

Cerita Kami Bertiga

Dimulai dari persahabatan kami; Evan, Doni dan tentu saja aku sendiri, Denry. Kami bersahabat telah lama, bahkan jauh sebelum masuk SD, aku sendiri sudah lupa kapan pertama kali kami saling mengenal dan saling merasakan kenyamanan layaknya sebagai makhluk yang bersinggasana di dalam sebuah istana yang beratasnamakan persahabatan. Baiklah, sebelumnya akan saya jelaskan siapa mereka itu.

Evan, sebut saja nama itu untuk orang yang paling keren diantara kami bertiga. Dia memang anak yang paling beruntung. Keluarganya bisa dibilang termasuk kalangan kelas atas di desa kami. Selain itu, hampir segala hal yang ia inginkan selalu tercapai. Di setiap awal sekolah dia selalu mendapatkan baju baru, sepatu baru, celana baru, alat tulis baru, buku baru, dan senyuman baru dari kami sebagai kata ‘selamat’.

Untuk masalah wanita, jangan dipertanyakan lagi. Bisa dibilang ia selalu mendapatkan wanita yang ia sukai. Mulai dari siswi tercantik di kelas, di sekolah, bahkan di kampung kami sekalipun.

Dia anak kedua dari empat bersaudara. Orangtuanya sangat menyenangi seni, terutama seni musik. Kadang kala saat kami bermain di rumahnya, sering kali kulihat bapaknya tengah memainkan kecapi, dan ibunya yang bersuara merdu mendampinginya dengan lantunan nyanyian Sunda yang begitu nikmat.

Sekarang dia sedang kuliah mengambil bidang keperawatan di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bandung. Karena jarak Subang-Bandung begitu jauh, ia memutuskan ngekos kamar di sebuah daerah tak jauh dari kampusnya. Saya sendiri sangat jarang kesana karena yang saya tahu, dia selalu berpindah tempat, mungkin setiap tiga bulan sekali. Saat dia merasa kurang nyaman dengan suasana kosannya, dia pasti akan mencari tempat baru, wajar saja karena seperti yang kubilang, dia dari keluarga berada. Itulah hukum yang dia anut sehingga membuatnya terlihat sebagai seseorang yang sangat simpel.

Hukum itu pun berlaku untuk wanita yang ada di sekitarnya, saat ia bosan tentu ia akan meninggalkannya dengan leluasa seberapa pun cantiknya wanita itu. Sedikit banyaknya kutahu kisahnya dengan semua para wanita, sampai yang paling terakhir dia meninggalkan wanita yang biasa kupanggil Nene.

Sebelumnya kukenal siapa sosok Nene itu dari adikku yang satu sekolah saat menempuh jenjang SMP. Sempat kutahu, dulu Nene pernah menyukai adikku. Badannya yang mungil sering sekali menampakkan diri di rumahku. Namun saat itu aku tak begitu mengenalnya lebih. Cerita tentang Nene hanya sebagai seorang teman dekat dari adikku, sekaligus adik dari teman dekatku, namanya Tirta, seorang wanita yang cantik, pintar dan cekatan. Sayangnya, sekarang Tirta sudah menikah dengan seorang lelaki mapan berjabatan tinggi di tempat ia bekerja. Terakhir kudengar tiga minggu yang lalu ia sudah melahirkan seorang puteri.

Kisah berlanjut tentang Nene. Pada suatu sore sepulang saya beraktivitas dan melakukan salah satu hobiku, online. Tiba-tiba dari sudut kanan bawah pada panel facebook keluar seseorang berfoto profil sangat cantik dan mengajakku chat, sambil bertanya “Ini kakanya si Kaze ya?” Tentu saja kujawab iya sambil nanya balik “Ini siapa ya?”

Dia menjawab “Ini Nene, temannya si Kaze, adiknya Teh Tirta, masih ingat ga?”
(Oya, Kaze adalah nama sebutan adikku)
“Iya, masih ingat atuh.” jawabku singkat.
“Tapi tadi seperti yang ga kenal?”
“Sekarang mah terlihat lebih cakep, jadi kirain bukan Nene.”

Dan percakapan kami pun terus berlanjut. Mulai dari menanyakan kabar, kesibukkan masing-masing dan masih banyak lagi. Kami pun bertukaran nomor hape berharap bisa melanjutkan komunikasi. Bisa kusebut itu adalah percakapan yang menyenangkan.

Selanjutnya, setiap hari kami saling mengirim pesan satu sama lain. Dan baru kutahu, di setiap sela-sela teks yang ia kirimkan selalu menyebutkan nama Evan, kutahu nama itu adalah nama sahabatku, bukan yang lain. Ia tetap saja menyebutnya hanya sebatas teman.

Beberapa hari kemudian, Evan datang ke tempat kosanku. Kami berbincang-bincang kesana kemari sampai akhirnya dia menanyakan darimana aku mengenal si Nene. Tentu saja saya tertawa, bukankah itu hal yang lucu. Ia menanyakan sebuah tanya yang seharusnya kupertanyakan untuknya. Aku sudah mengenalnya beberapa tahun lalu sejak ia masih SMP, waktu itu Nene sudah kelas 3 SMA. Akhirnya Evan menjelaskan bahwa ia sempat berhubungan dengan Nene, tapi karena suatu hal, akhirnya ia meninggalkannya tanpa kata yang jelas. Bahkan tanpa kata-kata.

Evan sempat mengatakan padaku, ia merasa bersalah telah meninggalkannya. Kujelaskan Nene sangat sakit hati atas perlakuannya, Evan pun mengiyakan.

“Den, kamu bisa ga mendekatinya? Setidaknya sampai perasaannya kembali netral, tak terlalu mengharapkanku.” Pintanya.

Aku hanya diam saja. tak kuasa juga menolak permintaannya. “Iya.” jawabku asal.

Dari sinilah aku mulai mengemban sebuah misi, mendekatkan diri dengan si Nene sambil mengalihkan perasaanya pada si Evan. Kami terus berkirim pesan seolah menjadi sebuah keharusan di tiap harinya. Tak sedikit Nene mengeluhkan sikap sahabatku, terkadang ia bercerita sambil menangis dengan pengharapan yang penuh.

Jujur saja kata bosan hinggap dengan nyaman saat ia mengadu. Aku harus selalu memberikannya kata-kata semangat yang kubuat dengan ekstra instan. Selalu kubenamkan kata-kata sabar dalam setiap pembicaraanku berharap ia bisa membuka mata bahwa lelaki tak hanya satu. Aku sendiri tahu, Evan melepaskannya karena seorang wanita yang sekampus dengannya, sebut saja Echi, seorang wanita asal Bandung. Selain kuliah, Echi juga bekerja di sebuah mal besar di Bandung. Sedangkan Evan dengan sabar harus selalu stand by untuk mengantar dan menjemputnya, dengan kata lain sebagai supir pribadi.

Evan adalah sosok yang beruntung di segala hal, kecuali untuk nilai raport. Tiadanya nilai merah menjadi sesuatu yang wajib ia syukuri di setiap penghujung semester. Kalau Evan baca ini, jangan komplain yah. Hehee..



Sahabatku yang satu lagi bernama Doni. Dia memang tak seberuntung Evan. Dia lahir dari keluarga yang sederhana.

Doni orangnya sangat ulet, rajin dan pendiam. keuletannya membuahkan hasil sehingga ia mendapatkan predikat sebagai seseorang yang paling pintar diantara kami bertiga. Bisa disimpulkan, Doni merupakan kebalikan dari Evan. Lagi-lagi aku harus berada di posisi tengah diantara mereka.

Karena keadaan ekonominya, Doni tak melanjutkan pendidikannya, ia hanya sampai sekolah di tahap SMA saja. Walaupun tak kuliah, kegigihannya tak mengijinkannya hanya berdiam diri di rumah. Beberapa bulan ia menghabiskan hari-harinya di sebuah lembaga untuk mengikuti training manufaktur secara gratis. Alhasil, dengan sertifikat yang telah dimiliki, sekarang Doni bekerja di sebuah perusahaan asing produsen minuman berkarbonasi taraf internasional sebagai karyawan tetap.

Doni merupakan orang yang sangat sederhana. Hobinya ngurek (mancing belut) di pematang sawah yang tak jauh dari rumahnya. Tapi sekarang tidak lagi, karena ia harus bekerja di perusahaan yang tadi kusebutkan.

Bersambung dulu ah.. Udah malem. Insya Allah nanti kulanjutkan.


Bandung, 26 Juli 2011 01:27

Rabu, 13 Juli 2011

Puisi Tanpa Wajah

Bersama setengah gelas kopi susu
Hendak kusimpan wajahmu
Diantara satu dua bintang yang belum mau pulang

Pasti akan datang seorang ayah
Datang ke rumahku dengan marah
Setelah mendapati putrinya di pagi nanti
Tanpa wajah

Hehee.. Tanpa wajah





Minggu, 10 Juli 2011

Setahun Bersama Kopisusu

Seiring lajuan waktu yang tak pernah berhenti seper tak hingga detik pun, sangat banyak hal yang terlewatkan oleh kita bersama walaupun di dimensi ruang yang berbeda. Dan itu berlaku bagi kita semua, Anda dan saya (selaku penulis Kopisusu).


Ternyata memang benar apa kata orang bahwa di dunia ini begitu banyak hiasan bergemerlapan yang seringkali membuat kita lupa, lupa dengan hal-hal di samping kita termasuk waktu itu sendiri. Barangkali hal itulah yang membuat saya terlena dalam menikmati suguhan dunia hingga saya sendiri tak sadar atas kehadiran Kopisusu yang selalu mau menerima segala coretan kecil saya, telah menginjak usia satu tahun.


Begitu banyak perubahan dalam penampilan Kopisusu dari awal saya membuatnya sampai sekarang ini. Hal itu tentunya tak terlepas dari kritik dan saran yang membangun dari Anda semuanya ataupun rekan saya yang memang kebetulan selalu bersinggungan langsung setiap harinya.


Inilah Tujuh Metamorfosis Kopisusu :




Kopisusu 1




Kopisusu 2



Kopisusu 3



Kopisusu 4




Kopisusu 5




Kopisusu 6




Kopisusu 7


Insya Allah untuk kedepannya, saya selaku penulis akan selalu berusaha yang terbaik bagi pembaca semuanya. Oleh karenanya; dukungan, kritik dan saran sangat saya harapkan.


Ada sejuta kata terimakasih yang ingin saya sampaikan kepada semuanya atas segalanya, walaupun saya tahu itu tak sebanding dengan yang telah Anda berikan, karena kata tak selalu mampu mewakili keinginan hati.




Terimakasih. Salam Kopisusu.



Minggu, 03 Juli 2011

Sepasang Purnama

Lampu kamarku kian meredup
Diam-diam merayu cahaya mengendap masuk
Sementara angin dingin mulai mengintip
Dari celah tirai jendela yang ia buka

Tak dapat kutahan seribu senyum
Melihat tanda tanya di wajahnya begitu ranum
Mereka berdua
Samasama tak kuasa mencerna
Tentang rindu atas sepasang purnama
Yang bertahta diantara katup matamu, wahai wanita




Selasa, 28 Juni 2011

Di Sebuah Perhentian

Jika kau memiliki sekeping CD berisi lagu favorite, maka ini kupastikan adalah sehela nafas pada nada yang sedikit tak cocok dengan cord manapun.


Baru saja aku menuruni sebuah bis kota ditemani dengan ceramah di sepanjang jalan yang cukup membosankan. Akhir-akhir ini aku begitu lekat menaikinya secara terpaksa, begitu pula dengan si penceramah berbaju putih tadi.

Di sepanjang jalan kompleks pertokoan, kutangkap aura kota ini tampak suram dari biasanya, matahari seperti tenggelam lebih awal saat jarum jam di tangan kiriku masih bersimpuh santai di angka lima lewat beberapa menit. Atau―kali ini aku jadi berpikir―mungkinkah benda itu telah bosan memberitahu seseorang yang menganggapnya seolah asesoris  yang tertakdir hanya berputar-putar di tempat itu-itu saja dengan nilai tak lebih dari Rp 75.000? Terpaksa harus kuakui tentang keterlambatanku hampir di setiap hal.

Ah, aku sedikit teringat dengan peristiwa di hari sebelum kemarin saat masih kuabaikan benda itu, di dimensi tempat dan titik rotasi waktu yang hampir sama. Suasana ini di jalan ini, suara-suara mesin kendaraan, lantunan lagu berjudul Sarjana Muda yang mengejekku dari radio milik seorang pak tua diatas becaknya, teriakan promosi tukang obat lesehan, dan aku yang sedang menjinjing tas gendong dan map berwarna merah ini di sebuah jalan yang tak kutahu namanya.

Kupikir itulah momen memilukan saat kupilih untuk menjual iPhone-ku, ponsel yang kudapat setelah merengek-rengek pada ayahku sebagai permintaan di hari ulang tahunku yang ke-19. Untuknya, aku harus berpura-pura kabur dari rumah dan mengancam tak akan pulang. Tak sedikitpun ada rasa ingin tahu bagaimana ayah mendapatkan uangnya sampai akhirnya beberapa orang berseragam dinas keamanan datang ke rumah untuk  mencarinya.

Baru kusadari betapa sempurnanya hidupku sebelum mereka hilang ke dalam ruang gelap dan hitam, juga dengan ponsel yang berada di tangan kananku. Kutimang-timang, kuperhatikan sekali lagi setiap sisinya sampai mataku terhenti pada ukiran silver berbentuk buah apel yang tertera di belakangnya, logo apel yang baru dimakan sedikit.

Kenapa begitu banyak yang percaya tentang Eva yang mau menukar surga dengannya? Entah kenapa aku berpikir bahwa itu adalah apel sisa dari surga.

Lalu bagaimana dengan bidadari di rumahku? Bukankah ia juga telah menukar istana dengan kalimat rayuan yang kudapat dari majalah-majalah dan juga hikayat orang jalanan? Semua orang tahu itu tak lebih mahal dari apel.

Sungguh amat besar penyesalanku atasnya. Ambisiku telah membuat perutnya semakin hari semakin tak terlihat sexy. Tapi entah kenapa dari sana aku mulai menyukainya secara ikhlas, bukan lagi karena wajah cantik atau postur tubuhnya yang indah. Bukan lagi karena uang taruhan dan semacamnya.

Hari berikutnya, sepertinya sama juga dengan yang lainnya. Tak kudapati perbedaan melainkan kurekam seorang penjaga toko yang sedang dimarahi wanita gendut, entah dia pemilik toko entah seorang pelanggan yang tidak puas. Hampir tiap hari wanita itu ada disana. Dan, sedang marah-marah.

Tak ada yang berubah disini, melainkan sebuah map yang semakin nyenyak bersemayam di tanganku di sebuah jalan yang masih tak kutahu namanya. Papan nama jalan yang sudah terkorosi akibat panas dan hujan membuat mataku kehilangan kemampuan dalam membaca.

Tempat ini memiliki keunikan sendiri. Ia telah memikatku, juga terhadap orang-orang yang ada di sekitar sini. Jadi bagaimana mungkin tempat seperti ini tak memiliki nama? Entah kenapa ada rasa tertantang saat kupilih untuk terus memikirnya. Otakku terus mengulas kalimat yang sama sampai aku tak sadar tanganku yang secara otomatis telah siap untuk mengetuk pintu kayu depan rumah kecilku.

Aku terdiam. Beberapa kali kuambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi. Pikiranku mulai terpusat pada seorang penyiksa paling kejam dari algojo jail manapun. Di sebalik pintu ini, kuyakin ia pasti tengah menunggu kedatanganku, menunggu jawaban yang berbeda dari sebelumnya.

Sementara tanganku begitu terasa semakin jelas bergetaran. Untuk kesekian kalinya kulepaskan nafas panjang. Mencoba memberanikan diri.

Terdengar suara berat khas pintu tua yang mulai terbuka setelah aku mengetuknya tiga kali. Aku tak tahu seperti apa ekspresiku saat itu. Yang kutahu jantungku berdetak semakin cepat, keringat yang sempat mereda mulai berkeliaran lagi di sekujur tubuh dan wajahku.

“Wa alaikumussalam,” suara yang begitu indah mencoba menjawab salamku. “sudah pulang ya?”

Yah, dialah bidadari yang kumaksud tadi, sekaligus penyiksaku.

Lagi-lagi aku diam. Sementara semua otot gerakku serasa kaku. Andai saja dulu kuliah kedokteranku selesai, mungkin sedikitnya kutahu apa penyebabnya.

“Dhe, aku…”

Dengan pelan ia daratkan telunjuknya di bibirku. “Masuklah dulu dan lepas bajumu, biar kubuatkan teh hangat untukmu.” katanya sambil tersenyum. Ia menyentuh pundakku yang basah saat langkah kakiku melewatinya.

Aku tak tahu apa kata yang tepat untuk mendeskripsikan senyumannya waktu itu. Terlihat begitu tulus. Namun rasa sakit ini semakin menyeruak. Lagi-lagi tanpa sadar ia telah menghukumku, menyiksaku.

Kami duduk berhadapan tersekat meja makan, tapi mata kami tak saling bertatapan. Untuk pertama kalinya kami sama-sama diam, mematung dan melihat meja kayu bertaplak bunga mawar putih yang begitu bersih, selain segelas teh hangat yang baru saja disuguhkan untukku.

Kulihat istriku kemudian hanya menunduk seperti seorang siswi sekolah dasar yang akan dihukum gurunya. Sebelum akhirnya ia mulai berkata-kata. “Kang, sebaiknya malam ini kita ngga usah…”

“Coba tebak hari ini kubawa apa?” Mulai kucoba menguapkan segala kekakuan sambil mengeluarkan beberapa bungkus makanan instan dan minuman kaleng dari tas gendongku. Tuhan, maaafkanlah aku, terpaksa harus kupotong kata-katanya.

“Wah banyak sekali,” teriaknya dengan mata girang dan berbinar, ternyata hanya beberapa detik saja. Kemudian ia meraih tanganku dan membalikannya. “kenapa akang melakukannya lagi?!”

Ia melihat semua bekas jarum yang sebelumnya kututupi dengan plaster untuk mengelabui petugas dalam acara tadi.

“Sekarang-sekarang ini PMI sedang mengadakan acara penggalangan donatur dimana-mana, ngga mungkin kan akang melewatkannya. Cepatlah makan, Dhe. Kamu ngga mau kan bayi kita sedih gara-gara ibunya kelaparan?”

Telah kumanipulasi semua dataku dalam formulirnya. Kutahu, manusia selalu saja ada yang lalai. Bukan ada, tapi banyak.

“Aku ngga lapar!” bantahnya. Matanya memerah tersirami air mata. Ia berdiri. Kemudian setengah berlari masuk menuju kamar. “aku yakin… Bayi kita akan lebih bersedih lagi jika ia tahu apa yang barusan dilakukan ayahnya…!”

Kudengar suara pelan bercampur isak dari dalam kamar. Rupanya itu adalah suara terakhir yang kudengar tadi malam. Aku merasa kini dunia berputar tak beraturan. Tanganku semakin gemetar. Tiap detak jantungku terdengar begitu jelas. Napasku sesak. Ingin sekali kukabari istriku, tapi kuyakin ia sedang menangis. Semuanya membias hitam dan tak terlihat lagi.

Maafkan aku yang akan membuatmu menangis lebih keras lagi, isitriku.

Semua bayangan itu telah kabur terusir suara klakson bis yang melewati jalan ini. Bis tersebut berhenti. “Yah, habis habis!” teriak kondektur.

Rupanya disinilah tempat perhentian terakhir bis ini. Bodohnya aku. Lalu apa nama jalan yang panjang ini? Ah, kenapa juga harus kupertanyakan. Karena hanya akan ada dua kemungkinan untuk namanya. Kembali ingatanku pada setiap uraian si penceramah itu.

Kulihat map yang ada di tanganku. Kubuka sedikit. Aku tersenyum saat melihat sampul bertuliskan riwayat hidup. Baguslah, masih terlihat seperti sebelumnya. Setelah membaca semuanya, kuyakin Dia tetap Maha Mengerti.






Jumat, 20 Mei 2011

Orang Mulai Menyebutku

Sesuatu apa yang hendak kutulis saat diri ini mendapati serangkaian hidung mancung di sekelilingku tak ingin menangkap uraian angin yang memeluk aroma nafasku. Tentu bukan karena virus influelza atau bau tak biasa.

Saat rasa itu bergemuruh datang kemudian jari-jemarinya yang nakal mulai menyingkap selimut tebal dalam tidur yang cukup lelap. Hingga pada pukul tiga kurang seperempat, aku terpaksa harus terbangun dan sempat merasa sesak dengan suara isak yang tak kunjung pecah. Tapi, ternyata masih juga belum ada apresiasi untuk kantung mata berisi luka dan air mata yang tertahan itu.

Ada begitu banyak hal yang dikhawatirkan atas beberapa molekul oksigen yang akan kuambil dari dunia ini sebelum menjadikannya pribadi yang beda untuk kembali menyapa atmosfer lagi. Entah mereka sudah tak mempercayai takdir Amazon bersama Kalimantan. Entah aku memang tak layak mendapatkan bagian.

"Haruskah aku tetap tersenyum, setidaknya sebagai jam istirahat sebelum kembali menangis?"
"Haruskah  aku menangis agar mereka tersenyum dan tertawa histeris?"

Sejujurnya... Tak ada yang ingin kutulis ataupun kutanyakan.

Dalam niat sesaat sebelum aku mulai menulis, selalu kuhindari kata-kata manis walaupun hasil akhir selalu saja terkesan sedikit puitis. Mungkin inilah bawaanku yang orang biasa menyebutnya "ROMANTIS", pikirku.





Bandung, 20 Mei 2011 | 00:14
----------------------------------------------
Tak perlu mempertanyakan apakah ini puisi atau cerpen
Saya sendiri bingung. Hehee...
Tapi yang pasti ini adalah sebuah catatan kecil