Rabu, 15 Mei 2013

Seperti Musim Hujan


Sore itu, di ujung evaporasi batinku
aku melihat sekelompok awan menenggak samudera
wajah mereka gelisah, mulut mereka basah
lalu mereka bertutur serempak
melahirkan sajak-sajak yang tersamar dalam kitab suci
perlahan keluar dari celah-celah mulutnya
lalu turun, lalu tersungkur,
dan sebagian menghantam jalanan

Hujan hujan hujan
teriak si bocah kecil
anak tetangga yang tak rajin pergi sekolah
Bodoh, ucap ibunya penuh elegan
itu kiriman tuhan, anakku. Hari ini ia berbaik hati
Bodoh, sentak si ayah
sejak kapan ia membuat hati untuk dirinya sendiri

Hey, bocah... Katanya mau huhujanan
kamu harus keluar
hujan itu kan seperti tuhan
ia tak suka masuk dalam rumahmu
karena gentingnya terlalu ketat
karena pintunya tertutup rapat




Setiabudhi-Bandung, 17 Desember 2012
04:11 #sedetik sebelum adzan shubuh


Minggu, 28 April 2013

Catatan Si Bodoh: Angka 9


"Protes pada tuhan adalah sikap paling jujur dari sekian sikap orang cerdas yang belum mampu berpikir."
- Denry Musthafa -

Maaf, aku tak sedang memuji diriku sendiri. Hanya saja sebagian besar orang-orang yang mengenalku pasti tahu bahwa aku pernah jadi juara umum saat SMP dulu.

***

Sejak duduk di bangku kelas 3 MI (sekolah agama yang setaraf dengan SD), aku begitu muak dengan keputusan tuhan, hanya karena kekagumanku pada angka 9. Dalam pikiranku saat itu, bagaimana bisa 9+9=18? Kenapa tidak angka 19 saja? Padahal jelas angka 19 lebih elegan.

Hmmm, aku malu pernah sebodoh itu.



Bertahun-tahun aku terjebak dalam kekecewaan. Hingga pada suatu hari teman sekelasku yang bernama Danny tiba-tiba menghampiriku dan mengungungkapkan sesuatu yang baru ia ketahui. Katanya, angka 9 itu sangat keren. Angka 9 jika dikalikan dengan angka berapapun kemudian hasilnya dijumlahkan hingga satu digit, maka akan tetap menghasilkan angka yang sama, yaitu angka 9 sendiri.

Hari itu aku menghabiskan seluruh jam sekolah dengan tersenyum diantara dinding-dinding SMPN 1 Cibogo yang kurasa menjadi lebih megah. Kutengok kaca jendela, di luar sana warna daun-daun melinjo yang hijau saling menganyam dengan birunya langit, menandakan dunia kembali mendapatkan pesonanya yang sempat tertutupi egoku sendiri. Maafkan aku, tuhan.

Kusadari ada tak-hingga hal yang menakjubkan di dunia ini, namun seringkali kita tak mau berpikir sedikit lagi, satu kali lagi.


Subang, 28 Maret 2013 (sebulan yang lalu), 18:14 WIB


Minggu, 10 Februari 2013

BUKAN Catatan Galau


Tanggal 5 Februari 2013 adalah hari pertama kali aku mengenal seorang wanita yang akhirnya aku menjadikannya pacar di hari yang sama. Sebut saja namanya Nda.

Dari sekian wanita yang mengungkapkan perasaannya padaku, aku yakin hanya dia yang tak benar-benar menyukaiku... dan itulah menjadi asalasanku untuk menerimanya. Setidaknya tak akan ada wanita yg kusakiti jika pada akhirnya aku tetap tak mampu menghentikan perasaanku pada wanita yang telah lama kupuja.

Aku mengenal sosok Nda sebagai gadis nakal, bahkan dia sendiri yg mengakuinya sesaat setelah pengungkapan perasaannya sambil menunggu jawabanku. Saat itu dia berjanji akan berubah jika aku menerimanya. Sebagai seorang lelaki, aku meresponnya sebagai 'Tantangan Baru'.

Awalnya memang lucu-lucuan. Kami berpacaran jarak jauh, lalu tanpa komunikasi (hp dia disita keluarganya), kemudian kami-pun harus backstreet. Tapi kerumitan tak hanya sampai itu saja, berikutnya baru kutahu bahwa sahabat yg selama 3 tahun di SMP selalu sebangku adalah salah satu mantannya.




Faktanya, sahabatku yang satu ini sebentar lagi menikah. Kami pun jadi sering bertemu dengan dalih ingin menikmati masa-masa kelajangannya sebelum masa pra-nikah. Karena dalam pikiranku, masa lajang/bujangan itu sangat unik karena hanya terjadi satu kali seumur hidup.

Keseringan ini membuetku jadi dekat dengan keluarga sahabatku, hingga suatu hari ibunya pernah pesan kepadaku untuk selalu memperhatikan langkah anaknya. Apalagi sebentar lagi akan menikah, ibunya takut sahabtku ini akan terjerumus lagi dan menggagalkan pernikahannya. Sebagai anak yang baik, ku-iyakan aja permintaan beliau.

Sahabatku pernah bercerita bahwa beberapa saat yang lalu ia dan Nda telah menjalin hubungan diantara sela-sela kejenuhannya dengan calon istrinya, dalam kalimat yang lebih sederhana katakanlah mereka berselingkuh. Mengetahui hal ini, akhirnya rencanaku untuk memutuskan hubungan dengan si Nda pun harus kutunda setidaknya hingga hari pernikahan sahabatku. Hmmm, pusing ya Allah.



Senin, 29 Oktober 2012

Selamat Tinggal Matahariku


Aku punya banyak sahabat perempuan, salah satunya bernama Dewi. Kami bersahabat sangat lama. Dan aku mengenalnya lebih dari setengah usiaku.

Hampir tak ada hari yang kami lewatkan untuk saling berkirim pesan yang isinya lebih banyak bercerita tentang pasangan masing-masing. Kadang juga masalah keluarga, sahabat-sahabat, ataupun lainnya.

Tiba saat Dewi telah bertunangan, komunikasi antara kami pun jadi sedikit berbatas. Semakin hari semakin berkurang, sampai tak pernah ada pesan lagi.

Di suatu malam, akhirnya kuterima pesan darinya secara tiba-tiba:
"Keluarga udah nentukan hari, sekitar tiga bulan lagi, tepatnya tanggal 20 Oktober tahun ini. Kamu harus datang ya, acaranya hari sabtu ko. Jangan lupa bawa seseorang yang paling kamu cinta, setidaknya sebagai kado pernikahanku."

Begitu kira2 pesan yang kuterima. Lalu kubalas dengan penolakan. Tak mungkin aku datang dengan Lisa. Ia masih pacar orang.



Sebulan-dua bulan telah berlalu. Pesan datang lagi dari Dewi:
"Oya, aku juga mengundang Lisa ko, jadi ga ada alasan kamu buat ga datang dengannya.."

Aku menghela nafas panjang. Hmm, dasar perempuan, selalu saja memaksa.

Dewi memang cerdas. Lisa yang bukan sahabatnya takkan datang sendiri, ia tentu butuh seseorang yang sangat mengenal Dewi, yaitu aku sendiri.

Sedangkan Lisa hanya menerimanya tanpa memikirkan tentang undangan itu. Mungkin di pikirannya sah-sah saja, karena beberapa hari sebelumnya Dewi telah menghadiri acara resepsi pernikahan kakaknya.

Tanggal 20 Oktober pun tiba. Aku berhasil membujuk Lisa untuk bisa mendampingiku ke acara tersebut. Kulihat Dewi menyambutku dengan bahagia. Mungkin karena ia baru melihatku berjalan dengan seorang wanita yg kucinta tepat di depan matanya.

Tanpa cemburu, malam selalu merayuku untuk bercerita tentang dua matahari. Dua sumber cahaya dari seluruh warna-warni hidupku. Sahabat dan Cinta.

Rupanya malam itu aku harus merelakan matahari-matahariku tenggelam. Malam itu bukan hanya malam terakhir aku melihat status kelajangan Dewi, tapi juga sebagai malam terakhir kedekatanku dengan Lisa. Sepulang dari acara, Lisa memutuskan untuk menjauh dariku dan memilih pacarnya yang bodoh.

Kuterima saja lah walau dengan berat hati. Aku sudah memberikan kado terbaik untuk sahabatku. Dan aku sudah menjadikan Lisa sebagai satu-satunya ratu di istanaku.

Dua kalimat lirih menggores di hatiku saat itu:
Selamat tinggal, Wi. Kita telah berbeda status..
Selamat tinggal, Sa. Kita telah berbeda arah jalan..

 

Senin, 22 Oktober 2012

Tentang Mimpi Indahku

Sejak kecil, aku mulai memimpikan hal yang hampir tak mungkin. Saat setiap anak seumuran denganku menginginkan dirinya menjadi seorang dokter, pilot, ataupun insinyur, anehnya dengan bangga aku ingin menjadi astronot biar bisa jalan-jalan ke bulan.

Diantara tanda tanya yang terlukis pada wajah-wajah temanku, kulihat Ibu Nati selaku guru yang mengajar di kelasku hanya tersenyum sederhana. Namun kelembutan matanya seakan dengan tegas berkata padaku untuk terus bermimpi walau suatu hari nanti kemustahilan itu mungkin akan membunuhku.

Jadi jangan heran jika setelah dewasa pun aku masih suka memimpikan hal yang tak mungkin, termasuk bermimpi indah untuk MEMILIKIMU..





Bandung, 22 Oktober 2012 21:49


Selasa, 25 September 2012

Catatan Galau

"Karena WANITA bukanlah garis finish yang diperlombakan sejuta lelaki, lalu kemudian diinjak dan dilupakan oleh sang pemenang.. Jadi, mohon hargailah mereka ! ☺☻"

Hmmm, mungkin ini adalah salah satu status favoritku yang kutulis dalam suasana hati yang paling kubenci: suatu situasi yang memaksaku hanya menjadi obat saat wanita yang amat kucinta merasa sakit, lalu memasukkanku kembali ke dalam laci tertutup hingga rasa sakit itu mengetuk kehidupannya lagi.

Memang kuakui, aku benar-benar kesal atas perlakuannya. Tapi bagi orang-orang yang bernasib sama sepertiku pasti bisa memahaminya. Ada rasa kesal jauh lebih kuat dari yang kuterima atas perlakuan kejamnya, yaitu saat kudapati sang tercinta sedang mengerang kesakitan. Tidak ada pilihan lain selain mengeluarkan jutsu perubahan wujud untuk menjadi obat aspirin lagi.

Kadang yang menjadi bahan pikiranku, seberapa hebatkah lelaki itu hingga ia dengan gigihnya mempertahankan status yang sudah jelas begitu memeras air matanya? Lalu apanya yang hebat dari lelaki seperti itu? Haah, betapa sombongnya pacarnya. Ataukah ia memang wanita paling setia yang pernah kukenal setelah ibuku?

Aku hanya ingin menulis di lembar kertas yang baru, BUKAN di secuil baris kosong yang terhimpit oleh coretan-coretan busuk milik pacarnya !!!



Bandung, 25 September 2012 00:05


Sabtu, 12 Mei 2012

Jadi Orang Ketiga Itu... Hmmm

Kuucapkan sapa untuk semua sahabat kopisusu. Hmmm, udah lama aku ngga corat-coret disini. Alasan yang ngga aneh sih, ceritanya lagi sedikit sibuk. Sibuk galau maksudnya. Hehehe, Tapi kali ini aku hadir lagi, walaupun sekalinya hadir malah langsung curhat. Ga apa-apa yah. n_n

Topik kali ini, aku ngangkat tema orang ketiga. Kenapa? Sabar dulu, baru juga baca separagraf udah nanya lagi. Hehee becanda.


Jadi orang ketiga itu menurutku ga enak banget. Padahal belum tentu ada niat awal buat ngerecokin atau disebut apalah, tapi tetep aja kamu bisa dianggap penghancur, perusak, terminator juga mungkin bisa, bahkan kadang dibilang ngga jantan (berlaku buat cewek juga?!). Yang lebih parah lagi ketika kamu ikhlas pengen berteman dengan seseorang, eh tanpa sengaja malah terperangkap perasaan suka dan anehnya seseorang itupun terperangkap juga yang akhirnya menjadikan dirimu sebagai orang ketiga. Dan kebetulan banget itu yang lagi aku alami sekarang, jadi orang ketiga.